Penyebab Keguguran Bayi Janin pada Masa Hamil Kehamilan

Keguguran bukanlah sesuatu yang diinginkan. Jika cara hidup kita sehat selama masa kehamilan, niscaya hal itu dapat dihindarkan. Jika tetap terjadi? Yakinlah, keguguran bukan akhir segalanya.  Perjalanan nasib tiap manusia memang sulit diramalkan. Ada kalanya kita mendapat kesenangan tapi di lain saat ditimpa kemalangan. Tak jarang pula, kesenangan dan kemalangan datang berbarengan. Salah satu contoh nyata terjadi pada Ny. Nur yang begitu gembira ketika dinyatakan hamil oleh dokter. Maklum, sudah 2 tahun ini ia menunggu kedatangan sang jabang bayi. Sayang, kegembiraan itu hanya bisa dirasakan sesaat oleh ia dan suaminya. Ketika menginjak kehamilan 8 minggu, Ny. Nur mengalami keguguran.

Kejadian itu terulang kembali pada kehamilan keduanya. Sebabnya pun tak jelas diketahui. Kata orang-orang tua, mungkin terlalu lelah.

KEGUGURAN SPONTAN
Apa sebetulnya yang disebut keguguran? "Keguguran adalah peristiwa keluarnya janin dan plasenta secara spontan dari rahim sebelum usia kehamilan 20 minggu," jelas dr. Karno Suprapto, DSOG, dari RS Pondok Indah.

Umumnya, seperti dijelaskan dr. Karno, gejala keguguran ditandai perdarahan yang disertai rasa sakit di bagian bawah perut. Sayangnya, tak semua wanita sadar bahwa ia tengah mengalami keguguran. Hal ini terutama sekali berlaku bagi wanita yang siklus menstruasinya tak teratur. Mungkin mereka menduga terlambat datang bulan dan darah yang keluar cukup banyak, berbeda dari biasanya. Padahal, bisa jadi ia tengah mengalami keguguran.

Pada kenyataannya keguguran cukup banyak terjadi. Apalagi keguguran yang terjadi pada trimester pertama. Ini disebabkan kejadiannya hampir tak berbeda dengan terlambat datang bulan. "Data penelitian menunjukkan, sekitar 10-20 persen dari kehamilan mengalami keguguran spontan," jelas dr. Karno.

FAKTOR PENYEBAB
Penyebab keguguran sangat beragam. Secara garis besar, dibagi dalam 4 faktor, yaitu faktor genetik, masalah hormonal, infeksi, dan faktor-faktor yang tak diketahui.

* Faktor Genetik
Sel-sel manusia yang normal mengandung 46 kromosom. Sel telur mengandung kromosom XX, sedangkan sperma mengandung kromosom X dan kromosom Y. Kendati demikian, adakalanya terjadi ketidaksempurnaan seperti jumlah yang kurang (misalnya 45) atau jumlah berlebih (menjadi 47). Keadaan ini mengakibatkan ketidaknormalan pada janin.

Faktor ibu memberi pengaruh sebesar 60 persen, sedangkan ayah berpengaruh 40 persen pada peristiwa keguguran. "Jadi, tak benar jika hanya ibu yang bisa mengakibatkan keguguran," tegas dr. Karno.
Bisa jadi, dalam hal ini hukum alam telah mengatur sedemikian rupa, sehingga janin yang tak sempurna gugur dengan sendirinya. Seakan ada seleksi alam yang menentukan, apakah janin ini layak berkembang atau gugur di tengah jalan. Faktor genetik menjadi penyebab terbesar dalam keguguran, sekitar 80 persen.

* Faktor Hormonal
Sekitar 10 persen keguguran disebabkan faktor hormonal. Mungkin si ibu mempunyai hormon prolaktin terlalu banyak. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan telur yang baru dibuahi.
Mungkin juga hormon progresteron terlalu sedikit. Padahal kehadiran hormon ini diperlukan untuk menunjang kematangan janin dan plasenta.

* Faktor Infeksi
Bila ibu terkena infeksi virus TORCH, juga bisa menyebabkan keguguran. Seperti kita ketahui, yang termasuk infeksi virus TORCH adalah toksoplasmosis, rubella, CMV (cytomegalovirus) dan HSV (herpes simpleks virus).

Jika ibu hamil mengalami infeksi ini, janin akan tumbuh secara tak normal. Mungkin seleksi alam mengakibatkan janin itu gugur sebelum waktunya.

* Faktor Tak Diketahui
Faktor-faktor tak diketahui mencapai 5 persen dari keguguran yang terjadi pada kehamilan. Bisa karena wanita hamil terkena kontak zat-zat kimia, radiasi, fisika, dan sebagainya.

PERSALINAN DINI
Seorang wanita disebut mengalami keguguran jika hal itu terjadi pada usia kehamilan di bawah 20 minggu dengan berat janin tak lebih dari 500 gram. Ada beberapa jenis keguguran yang dikenal di dunia kedokteran. Antara lain, abortus iminen yaitu keguguran yang mengancam, abortus insipien, yaitu abortus yang sedang berlangsung. Ada pula abortus komplet yaitu abortus di mana hasil konsepsi (pembuahan) keluar seluruhnya. Sedangkan abortus inkomplet adalah abortus di mana hasil konsepsi keluar sebagian
.
"Bila keguguran berulang sebanyak tiga kali, disebut abortus habitualis. Sementara bila janin mati dan tak berkembang di dalam rahim disebut missed abortion," jelas dr. Karno.
Namun bila janin telah berkembang antara 20-28 minggu dan terjadi sesuatu, hal itu tak disebut keguguran melainkan persalinan immatur (dengan berat bayi 500-1.500 gram). Sedangkan persalinan dini (prematur) terjadi bila usia kehamilan mencapai 28-34 minggu dengan berat bayi 1.500-2.500 gram.

Keguguran yang timbul pada kehamilan trimester pertama umumnya disebabkan faktor genetik, seperti kasus kelainan kromosom akibat translokasi berimbang antara kromosom-kromosom sperma dan kromosom-kromosom sel telur.

Sedangkan keguguran yang terjadi pada trimester kedua lebih sering disebabkan faktor ibu, seperti kelemahan mulut rahim, kerusakan dinding penyekat rahim, atau ukuran rahim. Persalinan (partus) prematur lebih kerap terjadi karena infeksi yang diderita ibu, seperti TORCH, infeksi saluran kemih, penyakit jantung bawaan, diabetes, dan sebagainya.

Jika seorang ibu mengalami keguguran, peluang untuk melahirkan anak dengan selamat sekitar 87 persen pada kehamilan berikutnya. Jika ia pernah dua kali keguguran, peluang itu menurun menjadi sekitar 60 persen melahirkan pada waktunya. Sedangkan jika ia pernah mengalami keguguran sebanyak tiga kali, peluang melahirkan bayi hanya sekitar 40 persen.

TINDAKAN PENCEGAHAN
Seperti sudah disinggung sebelumnya, keguguran terjadi ditandai perdarahan. Itu sebabnya seorang ibu hamil jika mengalami perdarahan sedikit apa pun, harus segera menghubungi dokter. Sedikit atau banyak darah yang keluar, perdarahan ini harus segera ditangani.

Biasanya dokter akan mencegah jangan sampai janin keluar. Antara lain dengan meminta calon ibu melakukan istirahat total (bed rest), disertai pemberian obat-obatan seperti dupaston atau gestanon. Selain itu akan dilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui dengan pasti apakah janin masih ada atau sudah gugur.

Bila tak ada janin tapi tanda-tanda kehamilan masih ada, hal ini dalam ilmu kedokteran disebut blighted ovum(BO). Bila keadaan sudah demikian, dokter akan mengambil tindakan kuretase, yaitu pengerokan pada rahim dengan tujuan mengosongkan rongga rahim.

Bila disebabkan infeksi, dokter akan mengobati infeksinya lebih dahulu. Jika infeksi sudah dipastikan sembuh, ibu tersebut baru diperbolehkan hamil kembali. Jika keguguran akibat mulut rahim yang lemah, maka pada kehamilan berikutnya akan dilakukan tindakan operasi pengikatan mulut rahim.

Untuk boleh hamil kembali setelah mengalami keguguran, umumnya dokter akan menganjurkan 3-6 bulan ke depan. Hal ini lebih disebabkan, bagi seorang ibu, untuk hamil kembali, ia memerlukan kesiapan fisik dan mental. Apalagi setelah kehilangan calon bayinya yang tentu saja akan meninggalkan kesedihan.
Jadi, kehamilan memang memerlukan dua faktor, yaitu sehat secara fisik dan sehat pula psikisnya. Di sisi lain, diperlukan pula dukungan dari orang-orang terdekat seperti suami atau orangtua.