Pembengkakan Benjolan Penyakit Tumor pada Anak-anak

Karena keberadaannya sulit dideteksi, orang tua wajib mewaspadai gejalanya. Tumor jenis apa yang bisa diderita anak dan cara-cara apa yang digunakan untuk mengobatinya? Dalam istilah kedokteran, tumor berarti pembengkakan atau benjolan. Ia bisa bersifat jinak, juga ganas, tergantung dari gambaran sifat sel-selnya di bawah mikroskop. Dari situ bisa dipastikan, jenis serta pertumbuhan tumor. Tak hanya itu. Dari sifat biologisnya juga bisa dilihat mengenai pembesaran, penyebaran, dan gangguan tumor.
"Adanya benjolan atau massa tumor pada seorang anak, harus selalu dipikirkan kemungkinan adanya penyakit keganasan yang dikenal sebagai kanker," jelas dr. Endang Windiastuti, MD, MM (Paed), dari Sub Bagian Hematologi-Onkologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Pada anak, tumor di organ tubuh letaknya cenderung pada bagian dalam tubuh alias susah terlihat. Nah, karena itulah terkadang anak yang menderita tumor terlambat datang ke dokter dan tahu-tahu tumornya sudah dalam keadaan stadium lanjut.Apa sebetulnya penyebab tumor dan bagaimana menangani anak yang terkena tumor?

PENYEBAB
Secara garis besar, penyebab tumor memang belum diketahui. Misalnya, mengapa sel yang tadinya tumbuh normal berubah jadi ganas atau mengapa sel tersebut tak mau mati malah tumbuh dan tak bisa dikendalikan oleh sistem yang ada dalam tubuh. Berbagai teori dikemukakan untuk menjelaskan penyebab terjadinya tumor/kanker pada anak. Namun, sampai saat ini belum ada yang dapat menerangkan dengan jelas dan tuntas.

"Karena anak masih memiliki keterbatasan umur, maka kemungkinan faktor kebiasaan seperti makan, paparan pada bahan kimia yang bersifat karsinogen, juga masih sangat terbatas. Dengan kata lain, hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penyebabnya," jelas Endang.

Berbagai hal, yaitu kemungkinan adanya kondisi tertentu dalam tubuh si anak, hingga saat ini juga masih dalam penelitian ahli. Misalnya, adanya kelainan genetik atau kromosom, yang oleh karena pengaruh dari luar (misalnya virus) dapat menyebabkan kanker. Demikian pula adanya kekurangan dalam sistem imunitas dapat meningkatkan kejadian penyakit keganasan pada anak. Sinar-X (sinar radioaktif) juga dikaitkan dengan terjadinya tumor/kanker pada anak. Selain itu, paparan sinar radioaktif pada seorang ibu yang sedang hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor/kanker pada janinnya kelak.

Bila dikaitkan pada anak, jelas Endang, "Teorinya masih dikarenakan infeksi virus. Infeksi virus menyebabkan perubahan sel sehingga sel itu menjadi ganas. Ada lagi karena gen berubah atau mutasi. Penyebab mutasi ini mungkin ada hubungannya karena zat kimia, virus, atau lainnya.

GEJALA PENGOBATAN
Pengenalan dini gejala yang ditimbulkan oleh penyakit keganasan, khususnya pada anak, amat sulit. Bisa terdeteksi dan bisa juga tidak sebab gejala yang ada umumnya tidak spesifik. "Rasa curiga ada sesuatu yang ganas baru muncul setelah gejalanya terlihat mencolok," ungkap Endang. Gejala yang sering tampak adalah demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas. Suhu tubuh bervariasi, sekitar 38-38,5 derajat Celcius dan kendati sudah diberi obat penurun panas, suhu meningkat lagi setelah menurun sesaat. Selain itu, terjadi penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat. Ini terjadi karena nafsu makan yang menurun.

Menurut statistik, kanker yang paling banyak terjadi pada anak adalah leukimia akut, disusul kanker kelenjar getah bening (limfoma malignum), kanker mata (retinoblastoma), kanker saraf (neuroblastoma), kanker ginjal (nefroblastoma), dan lain-lain. "Yang jelas, kanker yang ditemukan pada anak berbeda dan sangat jarang ditemukan pada orang dewasa."

Berbagai cara pengobatan sudah ditemukan dan dikembangkan. Tujuannya, tentu saja untuk mencapai kesembuhan. Antara lain dengan kemoterapi, pengobatan bedah, dan radioterapi. Di samping itu, telah dikembangkan pula pengobatan dengan transplantasi sumsum tulang.
"Khusus untuk pasien anak yang proses tumbuh kembangnya sedang berlangsung, ahli harus memperhatikan beberapa aspek pengobatan lainnya," ujar Endang. Seperti nutrisi yang cukup, penanggulangan infeksi dan rasa nyeri, serta pendekatan psikologis anak dan keluarganya.

TINGKAT KESEMBUHAN
Karena hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab tumor/kanker pada anak, maka yang penting dilakukan setelah ditemukan adanya tumor adalah pengobatan yang intensif. "Ini pun tak banyak menjanjikan pada pasien. Angka kesembuhannya tergantung jenis tumor/kanker," lanjut Endang.
Hampir semua tumor dan kanker pengobatannya memakan waktu satu setengah sampai dua tahun. Untuk leukimia pada fase awal dinamakan fase induksi. Fase ini paling berat karena anak harus dirawat kurang lebih selama 6-7 minggu. Anak akan diberi obat dengan cara suntik langsung ke pembuluh darah, lewat infus, atau lewat punggung ke susunan saraf pusat.

Obat tersebut menimbulkan efek samping yang berat. Membuat rambut rontok, anak menggigil, panas, sariawan, mencret. Karena itulah dalam fase induksi ini anak harus dirawat di rumah sakit untuk diobservasi. Setelah itu baru dilakukan operasi sumsum tulang, apakah sudah sembuh atau belum. Bila anak dinyatakan remisi (sembuh) maka ia bisa berobat jalan.

Selain kemoterapi, anak penderita kanker juga menjalani radiasi yang dilakukan setelah fase induksi. Sedangkan untuk tumor-tumor padat (solid tumor) seperti tumor ginjal, mata, kelenjar getah bening, dan lainnya, biasanya dilakukan bedah, kemoterapi, dan radiasi.

Jika masih memungkinkan, biasanya tumor akan diangkat dulu, dengan mengambil jaringan sebanyak mungkin. Setelah itu dilihat lewat mikroskop untuk menentukan jenisnya. Ini penting untuk menentukan jenis pengobatan. Apakah radiasi dulu atau kemoterapi. Atau mungkin tak perlu kemoterapi, cukup dibedah. Seandainya pada saat bedah ternyata tumor sudah menjalar ke mana-mana, jaringan yang diambil cukup sedikit, lalu dilakukan biopsi.

Dari situ bisa diketahui, seberapa jauh stadium tumor/kanker yang diderita. Untuk tumor stadium lanjut, misalnya, kemoterapi dan radiasi memegang peranan penting. "Jadi, sebetulnya makin dini pasien datang, bila dengan bedah bisa diangkat bersih, kemungkinan hidup akan lebih baik," jelas Endang.

Sayangnya sampai saat ini upaya pencegahan tumor belum ada. Jadi, pandai-pandailah kita mendeteksi gejala yang mencurigakan. Pendek kata, begitu ada yang tak beres pada anak, segera konsultasikan ke dokter.