Cara Mencegah Kegemukan Obesitas Anak Sejak Kecil

Melihat anak yang gemuk mungkin melegakan orangtua karena dianggap anak tumbuh sehat dan terawat, padahal banyak pula risiko yang mengancam anak. Sejak anak lahir, orangtua harus sudah memahami cara memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Salah satu caranya adalah dengan memahami cara membaca kurva pertumbuhan (growth chart) yang bisa memperlihatkan berat dan tinggi badan anak dari waktu ke waktu. Kurva pertumbuhan ini akan menunjukkan apakah anak bertumbuh sesuai dengan kanalnya. Misalnya, jika kedua orangtua tinggi maka diharapkan tinggi badannya anaknya pun kelak akan tinggi pula.

Pahami Kurva Pertumbuhan
Sambil menunjukkan kurva pertumbuhan anak, dr. Wiyarni Prambudi, SpA, IBCLC., spesialis anak dari RS Royal Taruma, mengatakan bahwa status gizi setiap anak dinilai dari tinggi badannya, bukan usianya. Dari tinggi badan maka akan diketahui berat badan idealnya. “Berat badan di antara -2 SD s/d 2 SD (Standar Deviasi) berarti berat badan anak disebut ideal atau normal, kalau di atas 2 SD tergolong gizi lebih, di atas 3 SD tergolong anak gemuk,” jelas Wiyarni yang juga staf pengajar di fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.
Namun orangtua perlu mewaspadai seandainya IMT anak lebih dari persentil 95 dilihat dari usianya, karena ini berarti berat badan anak di atas normal.

Dari Genetik hingga Habit
Faktor pertama yang bisa menyebabkan obesitas adalah genetik. Artinya, anak akan tetap saja gemuk meski asupan makanan biasa-biasa saja dari segi gizi maupun takarannya. Faktor kedua adalah nutrisi. Biasanya ini berawal dari anggapan orangtua bahwa anaknya tidak boleh kelihatan kurus. Sehingga tanpa melihat kurva pertumbuhan, anak selalu diberi makan. Akhirnya, berat badan anak terus meningkat. Padahal, menurut Wiyarni, wajar saja jika sesekali anak malas makan dan orangtua tak perlu panik.
Faktor ketiga adalah perilaku anak yang disebabkan kurangnya aktivitas anak. Apalagi jika sehari-hari, aktivitasnya hanya diisi dengan bermain game dan nonton teve, tanpa menggerakkan badannya dan berolahraga. “Mestinya, anaknya harus lebih banyak kegiatan fisik, naik sepeda, gerak badan dan sebagainya,” tambahnya.

Perbaiki Pola Makan
Wiyarni mengatakan, kalau memang anak Anda mengalami obesitas, perbaiki dahulu pola makan dan sesuaikan agar berat badan tidak terus meningkat. “Caranya, kalau nafsu makan anak naik-turun, semestinya diikutin. Jangan memaksakan anak agar terus melahap makanan,” anjur Wiyarni.
Sementara menyangkut aktivitas, berarti pola hidupnya harus diubah. Orangtua harus lebih sering membawa anak melakukan kegiatan fisik. Misalnya, jalan kaki di halaman setiap pagi. Juga dianjurkan untuk mengurangi kegiatan bermain game atau nonton teve. “Anak usia 5 tahun hanya boleh nonton teve maksimal 2 jam per hari. Selanjutnya bila menginjak usia di atas 5 tahun perlu ditambahkan dengan aktivitas yang disukai anak. Misalnya berenang, main basket, dan sebagainya yang disukai anak, tanpa membuat anak merasa tersiksa,” urai Wiyarni.“ Konsultan laktasi ini juga menambahkan, “Kalau sudah begitu, makannya disesuaikan dengan keinginan anak. Tidak perlu lagi dipaksakan harus makan banyak,” ujar Wiyarni.
 
Saatnya ke Dokter
Lantas bagaimana jika ketiga faktor tadi sudah diperbaiki, namun anak masih tetap obesitas? Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, ada kemungkinan kegemukan dipicu oleh kelainan hormon. Salah satu cara mengetahuinya adalah dengan menilai daya tangkap anak pada pelajaran (kognitif).
Anak obesitas karena masalah gizi biasanya pintar sebab asupan makanannya bagus. Sebaliknya anak obesitas karena kelainan hormon seringkali mengalami gangguan kognitif. “Kalau anak obesitas, tetapi pintar, berarti tidak ada masalah endokrin. Yang perlu dilakukan hanyalah perbaikan perilaku makanan dalam keluarga. ” tegas Wiyarni.
Sebaliknya kalau anaknya mengalami obesitas morbid (obesitas berat yang terancam kematian) apalagi disertai kurangnya kemampuan kognitif, inilah saatnya orangtua membawa anaknya ke dokter. Tujuannya untuk memastikan kemungkinan kegemukan berasal dari kelainan hormon. Misalnya kadar tiroid yang terlalu rendah atau adanya gangguan atau tumor pada hypothalamus yang biasanya ditangani oleh dokter anak sub spesialis endokrin.

Lebih Banyak Ruginya
Nah, meski anak yang gemuk terlihat secara kasat mata sebagai anak yang tumbuh sehat dan terawat, orangtua harus paham bahwa ada risiko yang mengancam. Yang paling dekat adalah anak tersebut cenderung menjadi remaja yang obesitas. Selanjutnya remaja yang obesitas cenderung akan menjadi dewasa yang obesitas.
Kalau obesitas dibiarkan berlama-lama, maka risiko kerusakan organ tubuh cenderung lebih banyak pula. Dalam jangka pendek saja, ketika anak masih bayi, perkembangan motorik anak dengan obesitas akan lebih lambat dibanding anak yang berat badannya ideal. Pasalnya kegemukan akan membuat anak susah payah hanya untuk membalikkan badan supaya tengkurap. Demikian juga untuk belajar berdiri atau berjalan akan kerepotan karena badannya yang kelewat tambun itu.

Akibat berat badan yang berlebih pula, kakinya tidak sanggup menopang badannya. Sehingga anak obesitas cenderung memiliki kaki “O” atau kaki “X”. Jangan lupa anak-anak obesitas akan lebih rentan terhadap gangguan jamur pada lekukan kulit dibanding anak yang berat badannya proporsional. Dalam pergaulannya, anak obesitas biasanya kurang percaya diri sehingga bisa mengganggu perkembangan psikisnya.
Risiko jangka panjangnya adalah anak obesitas relatif lebih mudah menderita diabetes tipe 2. Sebab pankreas yang mengatur metabolisme gula mempunyai batas kemampuan. Kalau kebanyakan, kelebihan gula yang tidak bisa dimetabolisme akan memicu diabetes tipe 2.
Obesitas juga memicu penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis). Ini disebabkan tingginya kadar lemak di dalam darah, sehingga menumpuk di lapisan dalam pembuluh darah, membuat pembuluh darah menyempit dan kaku. Sementara kalau penyempitan terjadi di pembuluh darah sekitar jantung akan memicu penyakit jantung koroner.

Dimulai dari ASI
Kekhawatiran bahwa obesitas bisa “diwariskan“ dari orangtua ke anak sebenarnya bisa ditepis. “Meski postur orangtua obesitas, bukan tidak mungkin anaknya terhindar dari obesitas, lho. Asalkan ibunya konsekuen sejak lahir memberinya ASI eksklusif selama enam bulan,” ujar Wiyarni. Melewati enam bulan ASI tetap diberikan tapi ditambah dengan makanan pendamping ASI, berupa bubur ASI atau sari buah. Menginjak usia setahun, selain masih terus menikmati ASI, anak sudah boleh ikut menyantap makanan keluarga. Itu semua sudah cukup untuk mendukung tumbuh kembang anak.