Cara Mengatasi Anak yang Tidak Bisa Diam Hiperaktif

Kondisi anak yang tidak bisa diam alias hiperaktif ternyata menunjukkan korelasi dengan kecerdasan. Apa iya? Logikanya, gerak menandakan kerja otak yang tak mandek. Semakin banyak anak bergerak, otaknya akan terus bekerja menghasilkan berbagai respons. Bila diibaratkan dengan orang yang berpikir, otak anak akan selalu terpakai dan menyebabkannya jadi berkembang. Dengan kata lain, anak hiperaktif ini sebetulnya memiliki kemampuan intelektual yang baik. Apalagi, tak semua hiperaktivitas pada anak disebabkan gangguan fungsi otak. Jadi, jangan memandang negatif anak yang tak bisa diam.

Secara teori, sebetulnya ada dua tipe anak hiperaktif yang bukan disebabkan gangguan fungsi otak. Pertama, anak yang secara fisik kelebihan energi sehingga tidak bisa diam. Kedua, anak yang kurang perhatian lalu dengan berbagai cara berusaha menjadi pusat perhatian. Ia berusaha menarik perhatian orang lain dengan mengganggu atau menjahili teman dan sebagainya.

Itulah mengapa penanganannya harus bertitik tolak dari penyebabnya. Kalau memang karena kelebihan energi, tawarkan aktivitas positif yang mampu menguras energinya. Namun sebaiknya, kegiatan yang dipilih haruslah bisa meredam aktivitasnya atau setidaknya menyeimbangkan geraknya yang berlebih. Berikan pula lebih banyak kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan konsentrasi, contohnya menyusun pasel, mainan balok, dan sejenisnya.

Sedangkan jika penyebabnya adalah minimnya perhatian dari orang-orang terdekat, tak ada cara lain kecuali memenuhi kebutuhannya untuk mendapat perhatian. Dekati dia dan bicaralah dari hati ke hati untuk mengetahui keinginannya. Jika anak yang hiperaktif tak mendapat penanganan semestinya, jangan salahkan bila kelak ia akan berkembang menjadi individu perusak (destroyer).

Jadi sebetulnya, mengarahkan anak hiperaktif relatif lebih mudah. Bukankah ia memiliki kemampuan otak yang bagus sehingga kalau diminta untuk memelajari sesuatu relatif akan lebih cepat menerima materi pembelajaran. Hanya saja, kalau tidak bisa menanganinya dengan baik, kemampuan si anak jadi tak akan tergali. Sayang kan?

PEMAIN DRUM LEBIH CERDAS?
Dari penelitian terungkap di antara pemain musik organ, gitar, piano dan drum, ternyata penabuh drum memiliki tingkat intelektual yang lebih tinggi dibanding lainnya. Mengapa? Pasalnya, untuk bisa memainkan alat musik ini dibutuhkan keterlibatan beberapa anggota gerak tubuh seperti tangan, kaki, bahu, dan sebagainya yang semuanya harus berkoordinasi dengan baik. Padahal masing-masing gerak dari setiap anggota tubuh tadi akan menghasilkan rangsangan lebih banyak pada bagian-bagian yang berada di otak.

Analogi lain adalah pemain basket dan catur. Permainan basket melibatkan banyak unsur lain disamping fisik. Sementara catur hanya mengandalkan bagian otak tertentu saja untuk berpikir. Ketika dilakukan tes kemampuan secara komprehensif, ternyata kemampuan kinestetik, intrapersonal dan kemampuan lainnya, pemain basket lebih bagus dibanding pemain catur. Sementara pemain catur umumnya hanya jago di satu bidang berpikirnya saja. Kesimpulannya, semakin mampu seseorang menggerakkan berbagai anggota tubuhnya secara simultan/bersamaan, terbukti memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi.

Akan tetapi sebaiknya anak tak hanya mendapat stimulasi kinestetik. Ia harus mendapat stimulasi yang bervariasi secara seimbang. Itulah mengapa para olahragawan yang memang cerdas secara kinestetik, tetap perlu mendapat kesempatan untuk mengasah otaknya dengan belajar agar kemampuan intelektualnya untuk berpikir jadi tetap terpakai.